Legenda Bulutangkis Minta PBSI Segera Introspeksi Diri

LiputanKami.com, Jakarta: Miskinnya prestasi perbulutangkisan Indonesia di pentas Internasional disayangkan para mantan pemain. Para legenda bulutangkis tersebut meminta Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) introspeksi dan berbenah diri dari berbagai aspek.

Keprihatinan itu disampaikan legenda-legenda bulutangkis Indonesia seperti Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Susi Susanti, dan Chandra Wijaya.

Sembari mengungkapkan keprihatinan mereka atas kemajuan negara-negara lain yang lebih signifikan dibanding Indonesia, mereka mengharap induk olahraga bulutangkis nasional introspeksi diri.

Juara dunia bulutangkis 1983 Icuk Sugiarto menyorot permasalahan non-teknis di kubu PB PBSI yang menurutnya memilih pelatih-pelatih pelatnas Cipayung atas dasar suka dan tidak suka.

"Prestasi (bulutangkis) kita merosot ya sebabnya dari kita sendiri. Kalau kelompoknya, kalau bukan grupnya, enggak dipake. Yang penting kuasai PBSI, kuasai kepelatihan," imbuh Icuk.

Cara seperti ini, sambungnya, membuat banyak pelatih-pelatih berkualitas hengkang dari pelatnas dan melatih negara lain.

Peraih emas Olimpiade 1992 dan juara dunia 1993 Alan Budikusuma antara lain menyorot perihal peranan PBSI untuk mendorong pembinaan di tingkat akar rumput.

Menurutnya, PBSI harus memanfaatkan hubungan baik dengan banyak pihak, terutama pengusaha, agar memperbanyak kejuaran serta program-program pembinaan untuk menjaring anak-anak muda berbakat.

"Banyak hal (yang harus diintrospeksi). Itu hanya salah satunya. Selain itu try out internasional juga saya rasa masih kurang banyak. Program kepelatihan pun harus ditinjau kembali," pungkas Alan.

Hal senada diutarakan Chandra Wijaya. Juara All England 1999 dan Olimpiade 2000 bersama Tony Gunawan tersebut meminta PBSI melakukan evaluasi mendalam untuk membenahi berbagai sisi yang ia lihat perlu diperbaiki, baik dari sisi teknis seperti sumber daya manusia (komposisi pelatih dan pemain pelatnas), metode kepelatihan, maupun sisi non-teknis yaitu perhatian kepada kesejahteraan pemain.

Peraih emas Olimpiade Barcelona 1992 dan juara All England 4 tahun berturut-turut (1991-1994) Susi Susanti juga meminta PBSI melakukan koreksi terhadap komposisi sumber daya manusia, metode, dan teknologi yang digunakan dalam program kepelatihan.

"Coba dilihat latihannya bagaimana. IPTEK yang digunakan seperti apa. Dan yang tak kalah penting, perlakuan (treatment) bagi masing-masing pemain bagaimana," terang Susi lagi. (MI/RIZ)


sumber : mediaindonesia